Opini, Pandangan Serta Rekam Jejak Pemikiran

  • Opini Kompas | IMF dan Malapraktik Diplomasi

    Jusman Dalle | Opini Harian Kompas Pemerintah memastikan bakal memberikan bantuan pinjaman kepada Dana Moneter Internasional (IMF) sebesar 1 miliar dollar AS atau sekitar Rp 9,4 triliun. Terkait komitmen Indonesia ini, Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan, IMF diharapkan tidak hanya menggunakan pinjaman ini untuk membantu negara-negara di Eropa, tetapi juga negara-negara di Asia dan Afrika.

  • Opini Republika | Urgensi Badan Haji

    Jusman Dalle - Opini Republika | Untuk mencapai tujuan pertama yaitu manfaat transformasi manajemen, Badan Haji yang nantinya bakal berfungsi sebagai eksekutor saja, merampingkan organisasi serta secara otomatis memotong rantai birokrasi bertingkat dan kompleks yang melibatkan banyak institusi. Badan Haji juga mengakhiri rezim monopoli kewenangan sebab Kemenag tinggal memegang satu fungsi, yaitu sebagai regulator sementara Komisi VIII DPR yang membawahi persoalan haji, berfungsi sebagai evaluator.

  • Plagiat Marwan Ja'far

    Aktivis Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Jusman Dalle berang setelah tulisannya diplagiat oleh Ketua Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Marwan Jafar. Berikut dugaan plagiat yang dilakukan Marwan sesuai dengan tulisan Jusman Dalle dalam opini yang diunggah okezone pada 25 Oktober 2011 lalu: http://news.okezone.com/read/2012/01/14/339/557120/inilah-dugaan-plagiat-yang-dilakukan-marwan

  • Rawan Pangan Negeri Pertanian

    Jusman Dalle - Opini Koran Tempo | Program revitalisasi sektor pertanian yang pernah dijanjikan sejak 2005 masih sebatas lip service. Infrastruktur irigasi rusak parah, jalanan di desa-desa basis pertanian pun belum memadai. Rencana pemerintah untuk membagikan tanah seluas 9,25 juta hektare juga baru sebatas “angin surga”.

1.1.13

Peluang di Balik Gelombang #TheJakarTweeps

Artikel ini diterbitkan oleh Banjarmasin Post (2/1/2013) dengan sedikit perubahan
twitter ecommerce marketing strategies

Wow, cetar membahana. Artikel yang ditulis oleh kolumnis Forbes.com, Victor Lipman (meminjam istilah artis Syahrini) betul-betul lebih dari sesuatu alias cetar. Betapa tidak, di dalam artikelnya, Lipman menyebut Jakarta sebagai The World’s Most Active Twitter City. Ya, Jakarta mendapat predikat sebagai kota dengan pengguna twitter teraktif di dunia mengalahkan kota-kota besar dunia lainnya seperti New York, London, Jepang dan Sao Paulo.
Lipman yang mengutip hasil riset Semiocast.com bertajuk “Geolocation Analysis of Twitter Accounts and Tweets” mengatakan bahwa selain Jakarta, Bandung juga merupakan kota tersibuk di twitterland. Ibu Kota Provinsi Jawa Barat itu tercatat berada di posisi ke 6 mengalahkan kota besar dunia lainnya seperti Paris dan  Los Angeles yang masing-masing berada di posisi ke 7 dan 8.
Temuan Semiocast.com dan artikel Lipman tersebut semakin membenarkan bila perlahan-lahan kita, manusia Indonesia, bertransformasi menjadi mahluk hyperconnected. Beberapa tahun belakangan, perkembangan information and communication technology (ICT) di Indonesia memang sangat pesat. Operator-operator seluler berhasil menyatukan nusantara melalui sambungan telekomunikasi dan bersaing ketat menawarkan layanan internet. Bahkan melalui promosi penjualan kerjasama (bundling) dengan produsen alat telekomunikasi seperti paket Simpati-Nokia, XL-Mito, AS-Samsung, Telkomsel-Blakberry dan lain-lain. Kita pun memiliki banyak pilihan dengan persaingan tersebut.
Di sisi lain, tingkat kesejahteraan masyarakat yang semakin membaik sehingga mampu membeli smartphone (telepon genggam cerdas) beserta paket internetnya. Pertemuan antara penawaran dari konsumen dan kemampuan permintaan dari produsen ini memberikan efek letupan dahsyat dalam jagat telekomunikasi dengan radius efek yang sangat jauh. Berdampak pada ekonomi, pendidikan dan demokratisasi.
Twitter, jejaring sosial paling populer di Indonesia termasuk yang memperoleh berkah. Budaya masyarakat Indonesia yang senang ngobrol terbawa ke Twitter sehingga jadilah kota dengan penduduk terpadat seperti Jakarta dan Bandung sebagai kota tersibuk di Twitter. Obrolan para #TheJakarTweeps (pengguna Twitter di Jakarta) dan #TheBandTweeps (pengguna Twitter di Bandung) yang tak tuntas di kantor, di tempat kerja, di pasar atau di mall, mereka bawa ke Twitter.
Kalau mengamati TT (Trending Topics - parameter apa yang paling banyak ditweet di dua kota tersebut), mohon maaf saja, sebenarnya tak penting-penting amat. Kadang lebih banyak candaan dan artikulasi kegalauan. Dari fenomena di TT itu juga saya menangkap jika pengguna Twitter di Jakarta atau Bandung di dominasi oleh ABG (anak baru gede) yang bisa kita identifikasi dari gaya bahasa mereka yang kadang alay da, childish.
Tentu saja obrolan di twitter tak melulu negatif atau tak membawa manfaat. Ada juga Tweeps (sebutan bagi pengguna twitter) yang memanfaatkan Twitter untuk menyebarkan virus motivasi, nasihat-nasihat agama, sex education, tips bisnis, maupun informasi lalu lintas.
Selain bagi operator seluler dan produsen handphone kita, sebagai pengguna Twitter, pun dapat memperoleh manfaat komersil dari akun milik kita.  Menurut saya, dengan paradigma bisnis tak salah bila kita melihat setiap Tweeps sebagai pasar. Artinya, puluhan atau bahkan ratusan juta pengguna Twitter bisa kita “kapitalisasi” dalam arti positif (cross selling).
Seperti judul artikel ini “Peluang di Balik Gelombang #TheJakarTweeps”, saya ingin memberi contoh Tweeps yang memanfaatkan akun Twitter miliknya untuk menangkap peluang tersebut. Mungkin pembaca sekalian tahu akun fenomenal @Poconggg milik mahasiswa yang bernama Arief Muhammad. Dengan tweet-tweet yang merepresentasi curahan hati anak muda, menggunakan bahasa gaul, alay, dan meggelitik, @Poconggg mendadak ngartis.
Kicauannya yang tersebar dan terus diretweet membuat @Poconggg memperoleh follower melimpah. Hingga artikel ini ditulis, @Poconggg telah memiliki 2.188.561 follower. Karena ngartis, @Poconggg (Arief Muhammad) kemudian banyak memperoleh orderan untuk menjadi pembicara yang tentu saja dibayar. Followernya dikapitalisasi untuk kepentingan bisnis. Dan hal itu, menurut saya sah-sah saja selama tidak merugikan follower.
Di Twitland yang lebih serius dan teduh, ada akun @Yusuf_Mansur yang memiliki 616.852 follower atau @Felixsiaw dengan 177.594 follower yang kemudian “dikapitalisasi” dengan melakukan seruan-seruan kebaikan. Mengajak follower untuk taat pada Allah SWT, memberikan nasehat-nasehat spiritual. Dari segi bisnis, beberapa kali Tweet @Yusuf_Mansur dan @FelixSiauw juga dikomersialisasi dengan tweet berisi iklan produk tertentu. Bahkan dengan konsistensinya pada topik tertentu, pemilik akun @Felixsiauw menjadi ustadz idola dan semakin tertokohkan.
Dari tiga contoh akun twitter populer : @Poconggg @Yusuf_Mansur dan @Felixsiauw tersebut, satu kesimpulan bahwa mereka mengapitalisasi dan memanfaatkan twitter. Dari twitter, ketokohan terbentuk, materi diraih dan pengaruh mereka tebarkan.
Bagi #TheJakarTweeps dan #TheBandTweeps aktivitas mereka di twitter tentu saja meluah kesah, rasa dan keinginan yang barangkali tidak tercapai. Di tengah kemacetan, suntuk antrian panjang di bioskop dan halte bus way (Trans Jakarta) mereka melempar uneg-uneg.
Nah, bagi yang cerdas melihat celah, kesah, rasa dan keinginan #TheJakarTweeps dan #TheBandTweeps, bisa menjadi peluang. Entah menjadi motivator dengan tweet berisi motivasi, ustadz/penasehat spiritual, atau untuk kepentingan bisnis. Melayani kebutuhan tweeps yang super sibuk karena tumpukan pekerjaan atau enggan terjebak macet di luar rumah. Yang jelas, tweeps adalah pasar nyata bagi mereka yang hendak menyelami E-commerce.
Seperti kalimat penutup Lipman di dalam artikel yang dipublikasikan pada 30 Desember 2012 tersebut, dengan twitter “Indonesia’s vast market of  237 million is closer than ever.” Dengan twitter, pasar Indonesia yang luasnya lebih dari 237 juta jiwa menjadi lebih dekat daripada sebelumnya.

Dari seorang #TheJakarTweeps - Jusman Dalle
Di Tengah Kemegahan Langit Jakarta
Pukul 00.00 WIB
Peralihan dari 31 Desember 2012 ke 1 Januari 2012

Share

\