Opini, Pandangan Serta Rekam Jejak Pemikiran

  • Opini Kompas | IMF dan Malapraktik Diplomasi

    Jusman Dalle | Opini Harian Kompas Pemerintah memastikan bakal memberikan bantuan pinjaman kepada Dana Moneter Internasional (IMF) sebesar 1 miliar dollar AS atau sekitar Rp 9,4 triliun. Terkait komitmen Indonesia ini, Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan, IMF diharapkan tidak hanya menggunakan pinjaman ini untuk membantu negara-negara di Eropa, tetapi juga negara-negara di Asia dan Afrika.

  • Opini Republika | Urgensi Badan Haji

    Jusman Dalle - Opini Republika | Untuk mencapai tujuan pertama yaitu manfaat transformasi manajemen, Badan Haji yang nantinya bakal berfungsi sebagai eksekutor saja, merampingkan organisasi serta secara otomatis memotong rantai birokrasi bertingkat dan kompleks yang melibatkan banyak institusi. Badan Haji juga mengakhiri rezim monopoli kewenangan sebab Kemenag tinggal memegang satu fungsi, yaitu sebagai regulator sementara Komisi VIII DPR yang membawahi persoalan haji, berfungsi sebagai evaluator.

  • Plagiat Marwan Ja'far

    Aktivis Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Jusman Dalle berang setelah tulisannya diplagiat oleh Ketua Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Marwan Jafar. Berikut dugaan plagiat yang dilakukan Marwan sesuai dengan tulisan Jusman Dalle dalam opini yang diunggah okezone pada 25 Oktober 2011 lalu: http://news.okezone.com/read/2012/01/14/339/557120/inilah-dugaan-plagiat-yang-dilakukan-marwan

  • Rawan Pangan Negeri Pertanian

    Jusman Dalle - Opini Koran Tempo | Program revitalisasi sektor pertanian yang pernah dijanjikan sejak 2005 masih sebatas lip service. Infrastruktur irigasi rusak parah, jalanan di desa-desa basis pertanian pun belum memadai. Rencana pemerintah untuk membagikan tanah seluas 9,25 juta hektare juga baru sebatas “angin surga”.

7.1.11

TAHUN BARU DAN MANAJEMEN KEMENANGAN*


TAHUN BARU DAN MANAJEMEN KEMENANGAN*

*Penulis : Jusman Dalle

(Mahasiswa Manajemen UMI-Humas KAMMI Makassar)

Entah apa yang ada dibenak seluruh masyarakat dunia saat jarum jam menjejak detik awal tahun 2011. Dentuman mercon dan hias warna warni kembang api menjadi bahasa simbolik akan artikulasi artifisial euforia menyambut tahun baru dan kini telah menjadi tradisi kosmopolitan hingga ke pelosok. Namun kita harus cerdas memetik hikmah atas perubahan waktu dalam akumulasi tahunan ini. Bahwa banyak pelajaran yang bisa kita eksplorasi, dan kali ini penulis ingin mengajak pembaca sekalian melihat dari sisi MANAJEMEN. Tahun Baru dan Manajemen Kemenangan. Selalu menjadi menarik mengawali sebuah masa, setidaknya bermanfaat sebagai momentum perubahan dengan sederet target. Pun detik pertama 2011 yang semakin jauh meninggalkan kita seiring putara jarum jam. Jika melihat kegagalan Timnas Indonesia (menjadi jawara) dalam ajang Piala AFF, agak relevan kita bawa dalam konteks perjalanan waktu yang akan kita lalui setahun ini kedepan. Menjadikan kekalahan Timnas sebagai peringatan dan catatan awal tahun. Semua tim yang mengawali kick of di Piala AFF pastilah memijakkan kaki dilapangan hijau dengan angan melangit, merajut cita ingin keluar sebagai champion, pemenang. Pun Timnas Indonesia. Dan terbukti berhasil menembus ke babak final yang akhirnya kembali bertemu Malaysia dimana sebelumnya telah ditaklukkan dibabak penyisihan group dengan skor telak 5-1. Namun apa lacur, kesalah terjadi saat Timnas tidak lagi focus pada cita yang telah melangit. Asa juara justru menjadi kabur dengan banyaknya 'godaan' sepanjang perjalanan menuju podium kemenangan. Sebut misalnya permintaan liputan eksklusive dari beberapa media, baik berita maupun infotaiment. Permintaan foto bareng dan tanda tangan oleh individu maupun kelompok fans. Dan yang paling banyak disorot saat acara jamuan sarapan bersama Ical -Abu Rizal Bakrie- dan keluarga, sekaligus pemberian bantuan 2,5 Miliar serta lahan seluas 25 hektar di daerah Jonggol sebagai bonus atas kemenangan melawan Filipina dan mengantar Indonesia menembus babak final. Hal ini menuai polemik karena Ketua PSSI yang juga fungsionaris dan mantan anggota DPR dari Golkar dituding mempolitisasi Timnas. Tentu jika dilihat sepintas, aktivitas tambahan Timnas itu sah-sah saja ditengah kepenatan melewati laga-laga menegangkan. Paling tidak sebagai ajang refreshing. Namun disinilah duduk masalahnya saat berbagai macam 'godaan itu' melalaikan dari tujuan utama. Akhirnya muncul kebanggan dan euforia atas pencapaian yang sesungguhnya belum tercapai. Menjadi Juara AFF. Namun ketergesaan membawa petaka. Selalu begitu, karenanya agama pun melarang kita tergesa-gesa. Karena tergesa-gesa itu dari syaithan.Walau masih terus berlatih sebagai bentuk ikhtiar menyiapkan laga final, namun justru secara psikologi mental Timnas sudah melambung dan barang kali tidak lagi menjejak bumi. Betapa tidak, pujian atas kesuksesan mengalahkan Filipina membuat serasa melayang, mungkin. Dan agenda persiapan meladeni Malysia pun terganggu.

Lantas apa hubungannya dengan kita, apa relevansinya dengan tahun baru? Pembaca yang budiman, setidaknya mengawali tahun baru 2011 ini, kita mulai dengan semangat kompetisi melalui sejumlah resolusi, tujuan, ataupun target-taget yang akan kita perjuangan. Ya, sama seperti timnas saat memulai kompetisi di Piala AFF. Maka dari kepahitan kisah akhir tahun (Piala AFF) kita ingin mengawali dan mencatat kisah manis di tahun baru ini. Ada beberapa hikmah dan catatan penting.

***

Pertama adalah Visi atau tujuan bahwa setiap organisasi dalam mengawali kepengurusannya pasti ada tujuan dan target-target yang ingin dicapai yang biasanya kita sebut sebagai visi. Pun kita harus lekat melihat diri bahwa kita adalah organisasi yang terdiri dari beragam organ dan potensi. Baik itu akal, ilmu pengetahuan, keterampilan, fisik, dan kelebihan lain yang kita harus organisir dalam rangka mencapai visi atau tujuan dan menjadi manusia sukses. Nah, menjadi pertanyaan, apa tujuan kita tahun 2011 ini. Target-target apa yang hendak kita capai. Dan bagaimana mencapainya. Setelah melalu perenungan yang matang, tentu kita harus mencatat dalam buku khusus, dalam buku agenda pribadi misalnya. Yang jelas kita harus menarget sebagai juara, sebagai chamipon dan sukses di akhir tahun nanti. Itulah visi besar sekaligus lecut semangat yang menghantar kita mengawali tahun ini.

Kedua, setelah ada tujuan maka harus ada Planning atau perencanaan. Memulai dari mana, perangkat apa saja yang dibutuhkan, bagaimana serta kapan memulainya. Tentu lebih cepat lebih baik, tapi jangan tergesa-gesa. Karena tanpa perencanaan yang mendetail kita akan mudah kehilangan arah dan bekerja tidak terorganisir. Maka perlulah kiranya kita menyusun perencanaan, baik itu dalam bentuk schedule maupun work board (papan kerja) yang terjadwal secara runut dan sistemik.

Ketiga adalah Action. Seribu rencana tanpa action sama juga seribu dikalikan dengan nol, hasilnya ya nol juga. Mulailah action kepada apa yang akan kita tuju. Menyasar visi juara dengan berawal dari satu langkah yang terencana. Mulailah ikhtiar sebagai bentuk kesungguhan dan pembuktian jikalau kita benar-benar ingin sukses. Karena actionlah yang akan menentukan hasil akhir dan pencapaian. Mulailah menendang bola menuju goal yang kita sasar. Semakin banyak, tertata, dan terencana maka semakin besar peluang kemenangan. Jika action, maka libat dan berdayakan orang disekitar kita, bekerjalah bersama orang lain agar mereka pun bisa menikmati kemenangan kita nantinya.

Keempat adalah Focus. Jika ada pencapaian-pencapaian kecil jangan berpuas dan berbangga diri. Karena sejatinya visi dan tujuan kita lebih besar. Menjadi juara, bukan sekedar juara group atau juara di babak penyisihan. Kita ingin menembus babak final dan menjadi juara disana. Sehingga seperti apapun menggodanya pencapaian-pencapaian kecil tersebut, jangan membuat kita lengah karena hanyut dalam gelombang euforia. Ingat bahwa kita sudha punya target, tujuan kita jelas. INGIN JUARA, dalam artian mencapai visi, resolusi, tujuan dan target yang sudah kita buat. Maka disini dibutuhkan konsistensi dan daya tahan terhadap godaan-godaan tersebut. Jangan terpedaya denga sanjung dan riuh rendah puja para penonton. Teruslah merangkai kemenangan-kemenangan kecil menuju puncak kemenangan.

Kelima adalah Ikhlas, jika pernah membaca buku Quantum Ikhlas karya Erbe Sentanu maka kita akan faham bahwa keikhlasan dalam ikhtiar, dalam menjalani godaan-godaan, dalam menyisihkan rintangan akan membuat kita tetap konsisten dan bertahan. Ikhlas juga akan menguatkan focus kita sehingga pada akhirnya kita menjadi pemenang. Dalam setiap perjuangan kita pun mesti siap menghadapi sederet ujian dan tantangan, sudah sunnatullah bahwa naik kelas sepaket dengan ujian. Tak ada kemenangan instan dan gratis, semua butuh pengorbanan. Dalam konteks pejuangan, ikhlas adalah bahan bakar yang terus mengobarkan dan mengokohkan kesabaran menghadapi ujian. Hanya hati yang ikhlas dan jiwa yang tulus yang akan bertahan dalam perjuangan dan meraih kemenangan sejati. Agama pun mengajarkan kita untuk ikhlas agar segala pengorbanan bernilai ibadah pada-Nya. Sehingga kita harus meluruskan niat bahwa target kita tahun ini merupakan manifestasi dari ibadah tersebut.

Akhirnya, mari merajut impian dan cita-cita kemenangan dengan semangat kompetisi. Kita mengawali tahun ini dengan spirit kompetisi dan semoga, kelak kita menjadi pemenang. Saat final di diakhir tahun mendatang, kita dengan bangga merah trofi juara dan mendapat sorak sorai yang sesungguhnya. Selamat berkompetisi!

Share

\