• Opini Kompas | IMF dan Malapraktik Diplomasi

    Jusman Dalle | Opini Harian Kompas Pemerintah memastikan bakal memberikan bantuan pinjaman kepada Dana Moneter Internasional (IMF) sebesar 1 miliar dollar AS atau sekitar Rp 9,4 triliun. Terkait komitmen Indonesia ini, Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan, IMF diharapkan tidak hanya menggunakan pinjaman ini untuk membantu negara-negara di Eropa, tetapi juga negara-negara di Asia dan Afrika.

  • Opini Republika | Urgensi Badan Haji

    Jusman Dalle - Opini Republika | Untuk mencapai tujuan pertama yaitu manfaat transformasi manajemen, Badan Haji yang nantinya bakal berfungsi sebagai eksekutor saja, merampingkan organisasi serta secara otomatis memotong rantai birokrasi bertingkat dan kompleks yang melibatkan banyak institusi. Badan Haji juga mengakhiri rezim monopoli kewenangan sebab Kemenag tinggal memegang satu fungsi, yaitu sebagai regulator sementara Komisi VIII DPR yang membawahi persoalan haji, berfungsi sebagai evaluator.

  • Profil Jusman Dalle

    Jusman juga menekuni digital marketing. Merancang dan membuat konten digital berupa tulisan (copywriter), visual dan audio visual untuk sejumlah perusahaan dan institusi skala nasional. Antara lain Partai Gerindra, Kedutaan Besar Jerman, Taksi Ekspress, Bank BTN, PLN, XL Axiata, Agung Podomoro Land, True Money, dll.

  • Plagiat Marwan Ja'far

    Aktivis Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Jusman Dalle berang setelah tulisannya diplagiat oleh Ketua Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Marwan Jafar. Berikut dugaan plagiat yang dilakukan Marwan sesuai dengan tulisan Jusman Dalle dalam opini yang diunggah okezone pada 25 Oktober 2011 lalu: http://news.okezone.com/read/2012/01/14/339/557120/inilah-dugaan-plagiat-yang-dilakukan-marwan

  • Rawan Pangan Negeri Pertanian

    Jusman Dalle - Opini Koran Tempo | Program revitalisasi sektor pertanian yang pernah dijanjikan sejak 2005 masih sebatas lip service. Infrastruktur irigasi rusak parah, jalanan di desa-desa basis pertanian pun belum memadai. Rencana pemerintah untuk membagikan tanah seluas 9,25 juta hektare juga baru sebatas “angin surga”.

2.12.10

MENELANJANGI GAGASAN EONOMI ADAM SMITH

MENELANJANGI GAGASAN EONOMI ADAM SMITH
Oleh: Jusman Dalle
(*Calon Intelektual Muda Ekonomi Islam)

John Adam Smith adalah filusuf kelahiran Skotlandia yang menekuni bidang filsafat moral. Semboyan 'Leissez faire' atau 'kebebasan berbuat' yg digagas oleh Smith a/akar dari liberalisme yg awalnya lahir dari pemikiran ekonomi hingga menggurita ke sistem politik, dan budaya . Menurut Smith, biarkan rakyat mengatur ekonomi mereka karena ini akan membangun semangat kompetisi sehingga pada saatnya nanti akan tercipta kesejahteraan yg merata, ketika setiap anggota masyarakat berusaha survive dan mensejahterakan dirinya. Dari perspektif ekonomi hal ini jelas SALAH BESAR. Karena kenyataannya, kepemilikan modal, pendidikan dan SDM tdk merata, masih banyak entitas masyarakat miskin dan buta aksara dan low resources.
Akibatnya jika asas/semboyan ini digunakan maka mereka akan semakin tercekik dan menjadi object eksploitasi karena tidak mampu bersaing dengan pemilik-pemilik modal. Pada akhirnya disparitas sosial yg kontradiktif akan terjadi dan menjadi masalah negara. Negara akan menangnggung beban. Belum lagi efek lain misalnya kriminalitas, prostitusi, anarkisme dan penyakit sossial lainnya akibat kelompok masyarakat ini stress sehingga mengekspresikan 'kelaparan' mereka dengan cara-cara sesuai kemauan yg mereka anggap benar atau melalui pembenaran oleh kelompok mereka sendiri. Padahal jauh sebelum Smith lahir (1723 M), kepada Rasulullah SAW (6 M) telah ada perintah untuk berbagi kesejahteraan tentang Sedekah-2:267 berbunyi: ''Wahai org2 yg beriman infakkanlahsebagian dr hasil usahamu yg baik2 dan sebagian dari apa yg kami keluarkan dr bumi untukmu'' atau perintah Zakat-6: di 141 ''..berikanlah haknya (zakatnya) pd waktu memetik hasilnya, tapi janganlah berlebih-lebihan..'' dan 32 ayat lain didalam Al Qur'an yg berisi ttg kebersamaan, perintah berbagi. Pemahaman Smith jelas sangat keliru karena memandang kepuasan individualistik merupakan spirit yg akan membakar etos kerja masyarakat. Keadaan ideal yg dibayangkan Smith tentang masyarakat yg kompetitif menafikan faktor humanisme-sosiologis sehingga negara hanya berperan sebagai penonton. Bersambung....
Share

\